Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Rekam Jejak Kang Maman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rekam Jejak Kang Maman. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juli 2013

Kenapa Harus Nahdlatul Ulama?

Suatu hari Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH. Maman Imanulhaq mendapatkan pertanyaan yang cukup menohok. Si penanya mengkritik tentang penamaan organisasi “Nahdlatul Ulama”, karena nama ini dianggapnya terbatas untuk kalangan ulama.
“Kenapa namanya harus Nahdlatul Ulama? bukankah itu artinya kebangkitan ulama? Jadi kalau begitu yang bangkitnya ulama saja? Bagaimana nasib yang bukan ulama?”
Tak berhenti sampai di situ, si “penanya” pun memberikan gagasan bahwa nama yang layak adalah bukan Nahdlatul Ulama, melainkan Nahdlatul Muslimin, sebab muslimin menyangkut seluruh umat islam, bukan hanya ulama saja.
Sebelum menjawab dengan serius, Kiai Maman mengawalinya dengan jawaban guyonan.
“Lho... kalau nanti namanya Nahdlatul Muslimin, nama organisasinya akan panjang sekali,” jawab Kiai yang sempat menemani Gus Dur selama kurang lebih enam tahun tersebut
“Maksudnya? Kok namanya bisa panjang?” si penanya tersebut panasaran
“ Ya iya, kalau namanya Nahdlatul Muslimin, tiap muktamar akan ada penambahan nama, muktamar pertama ibu-ibu ingin bergabung dan membentuk muslimat, jadi namanya Nahdlatul Muslimin wal Muslimat. Muktamar selanjutnya ada lagi usulan orang mu`min juga harus dimasukan, jadi namanya Nahdlatul Muslimina wal Muslimat wal Mu`minina wal mu`minat.
“Lalu sebab kita suka kirim doa kepada orang yang sudah meninggal, nah pada muktamar selanjutnya dimasukin lagi al-ahyai minhum walamwat, kan jadi panjang sekali tuh namanya, jadinya Nahdlatul Muslimina wal muslimat wal mu`minina wal mu`minat alahyai minhum wal amwat,” tukas Kiai Maman. (Aiz Luthfi)

Jumat, 14 Juni 2013

KH Maman Imanulhaq: Nahdliyin Bisa Contoh Perubahan Peristiwa Maulid

Majalengka – Maulid Nabi di kalangan Nahdliyin bukan sekadar tradisi perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tetapi ada hikmah perjuangan untuk mempertahankan sesuatu yang baik bagi umat Muslim.
“Jangan pernah memandang makna Maulid dari sekedar tata bahasanya saja. Akan tetapi kita lebih menilik ke dalam pemaknaan para ulama sebagai tradisi,”ungkap anggota Dewan Syuro Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa KH Maman Imanulhaq Faqieh, Selasa (22/1/2013).
Nilai-nilai yang terkandung dalam Maulid, ujarnya, lebih didasari rasa syukur atas kedatangan Muhammad SAW ke muka. Serta daya juangnya membawa umat dari masa kegelapan menuju masa terang benderang.
Hikmah lain atas kelahiran Rasulullah, yaitu mengajarkan kepada umatnya bahwa “al – Hayat jihad wa aqidah”. Artinya, hidup adalah sebuah perjuangan dan keyakinan.
Pengasuh Ponpes Al-Mizan Majalengka ini menyimpulkan, selayaknya memperingati Maulid sebagai sebuah kelahiran peradaban baru.
“Beliau merupakan tauladan bagi kita dari kondisi yang tak mengenakkan dapat diubah menjadi sebuah kondisi yang baik dalam dirinya,” ungkap Kiai Maman.
Sumber: DPP PKB

Cari Pendamping, Rieke Juga Jajaki Ketua Ponpes Al Mizan



Sejumlah nama mencuat untuk mendampingi politisi PDI Perjuangan (PDIP) Rieke Dyah Pitaloka sebagai calon gubernur Jabar. Salah satunya adalah Kyai Maman Imanulhaq, pemimpin Ponpes Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka.

Rieke menilai, Maman punya keunggulan dalam hal tertentu. Salah satunya cara pandangnya mengenai pluralisme.

“Ada persoalan pluralisme di Jabar yang harus kita selesaikan,” ucap Rieke usai menghadiri peringatan Hari Pangan Dunia di Taman Pramuka, Jalan RE Martadinata, Selasa (16/10/2012).

Menurutnya, masalah pluralisme di Jabar harus dicari solusinya. “Banyak yang harus dicari solusinya tanpa harus menghilangkan salah satu pihak,” ucapnya.

Secara pribadi, Rieke mengaku sudah berkomunikasi dengan Maman. Namun ia ogah mengungkap komunikasi apa saja yang dilakukannya. “Yang jelas sama Maman saya sudah komunikasi,” jelasnya.

Namun keputusan akhir ia serahkan pada DPP PDIP. Dalam kurun seminggu ini, diharapkan DPP sudah mengeluarkan sikapnya untuk menghadapi Pilgub Jabar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Maman Imanulhaq mengatakan, spirit api Islam yang menggelorakan pemihakan pada kaum dhuafa dan fakir miskin, harus kembali dihadirkan para kyai, ustadz, dan jamaah.

“Api ini yang menyalakan spirit pemihakan kaum dhuafa dan miskin. Bukan hanya abu yang mengotori nilai kemanusiaan dan kebangsaan”, ujar Maman dalam silaturahmi majelis talim dan pondok pesantren se-Wilayah III Cirebon, di Pesantren Bina Insan Cisaat Dukuhpuntang, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (14/10/2012).

Di hadapan sekitar 3.000 jamaah dan para kyai pengasuh pesantren, aktivis antikorupsi juga menekankan pentingnya spirit agama untuk transformasi dan perdamaian, seperti yang ditunjukkan para pendiri bangsa seperti Soekarno.

“Soekarno sangat menghargai nilai kebersamaan, kejujuran, dan kerja keras. Nilai-nilai itu adalah api Islam,” kata kyai muda yang juga pengasuh Ponpes Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat.

Acara silaturahmi juga menggelar istigotsah untuk keselamatan bangsa, yang dipimpin ketua majelis dzikir At-Tawajjuh, KH Abah Anom dari Balerante, Palimanan, Kabupaten Cirebon.
Hadir dalam acara, Ketua DPRD Cirebon, yang juga bakal calon bupati Cirebon dari PDIP, Tasya Sumadi Al-Ghotas.

Sambutan yang antusias pada Kyai Maman, bukan hanya karena ia mubaligh kondang yang kerap muncul di media cetak dan TV, tapi karena para jamaah mengetahui ia dilamar salah satu bakal cagub Jabar, Rieke Diah Pitaloka, untuk jadi wagubnya.

Ulama kharismatik Cirebon yang juga pengurus PC NU Cirebon Al-Habib Abu Tolhah menilai, Kyai Maman memiliki rekam jejak yang kuat dalam memperjuangkan kehidupan kaum nelayan, petani, dan buruh, dan secara geneologis datang dari Wilayah III Cirebon dan Tasikmalaya.

“Ini membuktikan Kyai Maman sangat layak untuk mendampingi Rieke, karena jadi simbol Marhaen-Marhaban,” tutur Habib Abu.

Acara yang berakhir pukul 11.30 WIB, ditutup dengan pembagian 100 hewan kurban dan doa oleh sesepuh pesantren Bina Insan KH Anas Sirojuddin. (*)

Pengembara dalam Tubir Kegelisahan

Pengembara dalam Tubir Kegelisahan
*) Puisi-puisi “Cinta” KH. Maman Imanulhaq Faqieh
M. Arief Hakim
KH. Maman Imanulhaq Faqieh (selanjutnya disebut Kang Maman) adalah suatu “fenomena”, khususnya untuk konteks Majalengka. Sebagai kiai muda yang mengasuh sebuah pesantren, dia sering menjalin komunikasi dengan kalangan LSM, media massa, seniman, sastrawan, dan budayawan. Lingkar pergaulannya sangat luas dan beragam. Pesantrennya yang terletak di Jatiwangi juga cukup sering menyelenggarakan momen-momen budaya, seni, dan sastra. Selain itu, Kang Maman termasuk kiai yang bervisi pluralis dan bersahabat dengan para pemuka agama di luar Islam. Beberapa komunitas muslim fundamentalis bahkan menyebutnya sebagai sosok yang liberal dan “dekat” dengan Amerika. Suatu cap yang menurut saya agak berlebihan dan tidak masuk akal. Seorang kiai dekat dengan komunitas seni, budaya, dan bervisi pluralis, masih merupakan hal yang langka atau bahkan “aneh” untuk konteks Majalengka.
Sejauh yang saya tahu, hingga sekarang, sosok pesantren di Indonesia mayoritas masih merasa asing dengan fenomena seni, sastra, dan budaya. Mereka menganggap bahwa seni, sastra, dan budaya masih merupakan barang “asing” dan berada di “luar” Islam. Seni, sastra, dan budaya untuk itu layak dijauhi. Pesantren Al-Mizan Ciborelang, Jatiwangi, yang diasuh Kang Maman merupakan contoh pesantren langka yang punya apresiasi seni, sastra, dan budaya. Untuk itu, ketika ia menyodorkan kumpulan puisinya yang akan diterbitkan menjadi buku, saya tidak (begitu) terkejut. “Ku Pilih Sepi”, judul kumpulan puisinya, tampaknya bisa mengundang banyak tafsir. Kang Maman dan pesantrennya, misalnya, memang berada di wilayah yang “sepi”—khususnya untuk konteks Majalengka — karena dekat dengan kantung LSM, media massa, seniman, sastrawan, dan budayawan. Sepi di sini bukan dalam arti fisikal, melainkan psikologis. Sebagai seorang kiai di tengah banyak pesantren dan komunitas fundamentalis yang cukup solid di Majalengka, Kang Maman juga “sepi” (lagi-lagi untuk konteks Majalengka) karena bervisi pluralis dan semi liberal. Kosakata “semi liberal” ini murni merupakan otak-atik dari diri saya sendiri, setidaknya karena dua alasan. Pertama, Maman masih mengakui dan memosisikan teks suci (Al-Quran dan Hadis) sebagai “pusat” nilai. Seorang yang benar-benar liberal biasanya menganggap rasio dan hati sebagai “pusat” dan menempatkan semua semesta kesadaran dan semesta nilai (termasuk teks suci) pada “meja” yang sama. Kedua, di pesantren yang diasuhnya, Kang Maman masih mentradisikan ritual-ritual khas NU seperti zikir, istighosah, tahlil, barzanji, dan semacamnya. Potret keliberalan Maman, kalau memang bisa disebut liberal, mungkin “seirama” dengan keliberalan Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Masdar F Mas’udi, dan beberapa lagi yang lain, bukan sebagaimana kaum liberal generasi baru yang jauh lebih radikal seperti Ulil Abshar dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)-nya yang tidak sekadar menyebarkan paham pluralisme, tetapi juga sekularisme.
Komunitas Liberal generasi baru itu adalah penganut paham rasionalisme. Bagi mereka, akal punya kedudukan lebih tinggi daripada wahyu dan kitab suci mana pun. Kaum liberal generasi baru ini, tampaknya sangat rasional, sehingga tidak bisa menghayati lagi ritual-ritual agama (Islam) yang formal sebagaimana masih dilakukan oleh Kang Maman dan pesantrennya.
Kang Maman adalah bagian dari sekian banyak penulis-penulis puisi (penyair) yang—karena satu atau lain hal—tidak (atau belum?) mempublikasikan puisinya di media massa. Tetapi, bukan berarti puisinya kurang “berkualitas” dibandingkan dengan penyair-penyair lainnya yang sudah punya jam terbang tinggi dan acapkali nampang di media massa dan forum-forum sastra yang bergengsi. Dalam batas-batas tertentu, komunitas sastrawan yang telah mapan dan juga media massa punya kekuatan untuk mentahbiskan seseorang sebagai penyair yang andal; tetapi, sosok-sosok seperti Kang Maman yang secara diam-diam membuat puisi dalam “kesunyian” (Ku Pilih Sepi?) kadang karyanya tidak bisa diremehkan dan dipandang sebelah mata. Bagi sosok-sosok penyair seperti Kang Maman, yang penting adalah membentang kreatifitas dan berkarya tanpa henti, bukan mengejar “pengakuan” dari mana pun, khususnya dari aparat “pendefinisi” dan rejim “kebenaran” (para sastrawan mapan dan media massa?). Adalah hal yang niscaya untuk merayakan nilai-nilai dan karya tanpa harus mengaitkan dan mematut-matutkan diri dengan rezim yang mapan dan establish (baca: para sastrawan mapan, forum-forum sastra yang “elitis”, dan media massa). Para penyair “bawah tanah” yang tidak terekspos oleh (terutama) media massa kadang perlu membongkar kekuatan-kekuatan mapan yang sok punya otoritas dan hegemonik. Atau lebih bagus lagi kadang perlu cuek dan (ohoi!) mempersetankannya. Merayakan pluralisme radikal dalam konteks karya sastra—khususnya puisi—adalah hal yang niscaya dan perlu.
Antologi puisi Kang Maman yang diberi judul “Ku Pilih Sepi” dan berisi kurang lebih 80 puisi ini merupakan kegelisahan sang penulis untuk mepertanyakan makna, nilai, dan kehidupan. Lebih spesifik lagi, dalam karyanya ini, Kang Maman mencoba menggugat diri sendiri, orang lain, serta realitas sosial dan kebudayaan. Hakikat kehidupan adalah bergerak dan dinamis, bukan statis, membeku, dan dogmatis. Dalam antologinya ini, Kang Maman tampak sebagai penyair yang gelisah dan terus mencari. Mungkin karena Kang Maman adalah sosok kiai yang tiap hari bergelut dengan wacana Islam (dia adalah seorang dai yang cukup laris), dalam puisinya ini Kang Maman sering memakai kosakata yang berasal dari khazanah Islam seperti, antara lain “alhamdulillah”, “dzikir”, “dzuha”, “tasbih”, “sujud”, “masjid”, “wali”, “sajadah”, “subuh”, “sholawat”, “isti’adzah”, “audzubillah”, “tarhim”, “azan”, “ya’qub”, “yusuf”, “rabi’ah”, “nuzul al-quran”, “qurban”, “magrib”, “Allah”, “mujahid”, “hafidz”, dan “qori”. Sebagian puisi-puisi Kang Maman, sesuai wilayah yang tiap hari digelutinya, menggemakan apa yang mungkin bisa disebut sebagai kegelisahan religius. Dia kadang menggugat keberadaan dirinya, tetapi juga menguggat kehidupan dan realitas sosial secara lebih luas.
Dalam puisi “Dzikir”, Kang Maman menulis, …saat senja tiba,/kurenda mantra/dalam untaian tasbih/larut bersama derita/ku terpejam/ sepanjang sujud malam/khusyuk menangisi cahaya/yang redup dalam kebutaanku. Atau dalam puisi “Bias” yang diperuntukkan bagi D Zawawi Imron, yang berbunyi, …dengan mata nyalang/ku tertusuk ilalang/berkalang tulang/ nasib malang. Kosakata “tertusuk ilalang” (yang juga pernah dijadikan judul film Garin Nugroho “Bulang Tertusuk Ilalang”) memang bisa diidentikkan dengan Zawawi Imron, penyair “senior” dari Madura. Kemudian, lewat puisi “Isti’adzah”, Kang Maman mencoba menggugat dirinya yang juga berimplikasi pada realitas sosial. Simak bait-baitnya, ‘audzubillah/ku berlindung pada Mu, dari…/kekejaman tak bernurani/kepongahan yang penuh dengki/kezaliman orang yang tak tahu diri/serta rekadaya manusia yang merasa takkan mati/ku memohon/tenggelamkan keangkuhan firaun/yang bersemayam dalam jiwa/lumatkan kebodohan namrudz/yang menutupi hamba/ porak-porandakan kerakusan tsamud/yang membakar nurani/seperti adam yang tersungkur dalam jemari Mu:/aku telah zalim tapi Engkau tak lalim untuk/membiarkan ku.
Puisi-puisi dalam antologi “Ku Pilih Sepi” ini dibuat oleh Kang Maman dalam rentang tahun 2002-2005, suatu masa ketika Indonesia masih terus dirundung duka dan nestapa yang tiada terkira. Bangsa yang diterpa krisis multi dimensi. Bangsa yang sakit “parah”. …kepedihan pertiwi yang kehilangan harga diri, tulis Kang Maman dalam puisi “Mata”. Dia juga menulis bait-bait, …ke puncak tampomas yang terkulai lemas/diperkosa juragan pasir bergigi emas (puisi “Pasir Sumedang”). Bait-bait ini secara lebih luas mungkin bisa dipakai untuk menggugat para penguasa—entah elit/rezim politik maupun elit/rezim ekonomi—yang mengkapling-kapling dan menjarah kekayaan negara di mana-mana yang seharusnya dipakai untuk memakmurkan rakyat. Sangat ironis, Indonesia adalah negara yang kekayaan alamnya melimpah, tetapi semakin banyak rakyat yang miskin dan kelaparan. Kang Maman juga menggugat ketimpangan sosial-pilitik yang mencolok di depan mata, misalnya pada kasus impor beras yang semakin menampakkan kezaliman kekuasaan yang menjadi-jadi. Protes rakyat yang luas, tidak mampu memengaruhi keputusan elit politik karena penguasa dan elit politik adalah gerombolan bandit yang busuk dan korup. Dalam puisi “Mata”, Kang Maman menulis, …mataku terpejam/ceceran hitam terus membayang/penolakan makin keras/impor beras makin deras. Lewat puisi “Wajah” yang diperuntukkan bagi penyair Sutardji Calzoum Bachri, sekaligus meniru gaya puisi mantranya Sutardji, secara cukup tajam Kang Maman menulis, wajjahtuwajahkuwajahtersiputakmaluterpakukaku/wajjahiyawajahsiapatakbisabedakandosapahala/wajjhukumwajahkumuhburuhberpeluhkeruh/wajjhuhumwajahwujuhtaktersentuhrusuh/wajjhinawajahlukaderitamanusia.
Sebagai seorang kiai yang tiap hari bergelut dengan doktrin-doktrin agama (Islam), sebagaimana tercermin dalam beberapa puisinya, Kang Maman kadang juga menggugat keberadaan (pemeluk) agama yang acapkali tidak tanggap terhadap problem-problem kamanusiaan yang riil dan mengepung kita, khususnya di bumi pertiwi ini. Agama pun kadang hanya sekadar menjadi “simbol” dan “baju”, atau bahkan secara sadar dijadikan alat oleh sekelompok orang (termasuk kadang para ulama) untuk berkelit, berdusta, dan mengelabui, sebagaimana banyak terjadi di negeri ini. Agama juga sering digunakan sebagai “kendaraan” untuk meraih uang dan kekuasaan. Dalam puisi “Masa”, Kang Maman melontarkan kritik pedas berikut, masjid di negeri para wali/membatu dalam jejak gulita/rintih peziarah terhijab sepi/hanyutkan jiwa berjubah dusta/saatnya bicara lagi/tentang pangeran yang dibenci rakyat/tentang candi yang kehilangan api/tentang masjid yangt tak bernyali.
Dalam puisi yang lain berjudul “Kupu-kupu”, Kang Maman mencoba melukiskan suatu kehidupan yang penuh ironi dengan larik-larik yang sederhana dan enak dibaca. Kupu-kupu ini mungkin merupakan simbol dari seseorang yang mungkin cantik dan menawan, tetapi tidak berdaya. Di balik keindahannya, ternyata dia menyimpan kesedihan, kepedihan, dan kehampaan. Suatu duka lara dan nestapa. Kang Maman menulis, kupu-kupu menari/di kerut wajah manismu/meliukkan tubuhnya/bersama seluruh kehampaan/kupu-kupu menyanyi di ujung bibir merahmu/mengepakkan sayapnya/bersama seluruh kesedihan/kupu-kupu membisu/di bawah telapak kakimu/meratapi nasibnya/bersama seluruh kepedihan.
Entah merupakan faktor kebetulan atau disengaja, yang paling banyak menghiasi kumpulan puisi “Ku Pilih Sepi” adalah kosakata “cinta”. Tampaknya Kang Maman cukup terobsesi oleh para sufi besar sepanjang sejarah yang acapkali menebarkan konsep cinta. Cinta adalah energi dan daya hidup yang luar biasa. Cinta mampu melampaui berbagai baju primordial yang sempit dan sektarianistik, entah itu bernama agama, suku, ras, jenis kelamin, atau apa pun. Cinta adalah kekuatan yang merawat dan memekarkan kehidupan, ia selalu melawan kekuatan destruktif yang merusak kehidupan. Cinta yang dimaksudkan dalam puisi-puisi Kang Maman, tampaknya punya skala dan level yang bermacam-macam, baik itu cinta antar pribadi, antar umat manusia, cinta kehidupan, bahkan cinta kepada Tuhan. Seorang sufi (besar) biasanya adalah juga seorang pecinta yang agung. Ibnu Arabi, seorang sufi besar, misalnya pernah membuat puisi yang cukup menggetarkan yang berjudul “Agama Cinta”. Salah satu cuplikan baitnya berbunyi,…Aku beragama dengan agama cinta/Aku berada di mana (agama cinta) itu berada/Cinta adalah agamaku dan imanku.
Sebagai penyair yang belum cukup intens menggumuli puisi, puisi-puisi Kang Maman terasa sederhana, tidak rumit, dan tidak terkesan ndakik-ndakik. Beberapa puisinya kadang terkesan datar dan kurang punya greget, tetapi ada juga yang cerdas, bernas, dan menjotos! Dalam puisi “Pasir Sumedang”, Kang Maman memunculkan kosakata “Pengembara yang terjungkal dalam jurang gelisah”. Saya mencoba mengadaptasinya untuk membingkai esai sederhana ini dengan judul “Pengembara dalam Tubir Kegelisahan”.
M. Arief Hakim, penikmat sastra dan puisi,
tinggal di Jatiwangi.

Mister, I Wish You Were President of America

Oleh : Tim. Papa “Mister, I wish you were President of America”
(Catatan pengarang: Saya tinggal dan berkeliling dari pesantren ke pesantren sebagai peneliti S2 sejak Januari hingga Februari 2006, bersama Kyai Haji Maman Imanulhaq Faqieh. Kini sang kyai berusia 35, seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan di Jatiwangi, Jawa Barat.)
Pada 27 Januari 2006, KH. Maman dan saya bicara pada sebuah seminar di PP Ulumuddin. Tajuk seminar, “Terorisme dan Budaya”, yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (STAISA). “Tulislah sesuatu (soal ini),” pinta KH. Maman seminggu sebelumnya. Saya menulis makalah berjudul “Saya ‘Hanya’ Orang Amerika, Tidak Lebih”.
“Saya bukan seorang Muslim …tapi saya punya akses,” tulis saya dalam bahasa Indonesia. Beberapa waktu kemudian, saya menerbitkan tulisan itu di The Athens News, sebuah majalah berita alternatif dwimingguan di Athens, Ohio. Saya mengikuti sang kyai kemana pun ia pergi. Ke pengajian, ke ruang belakang pengajian bersama para kyai lain untuk minum teh bersama, saling bersalaman, saling menghormati. Saya ikut pula ke rumah para kyai dan pesantren lain. Ke berbagai pernikahan. Ke konser-konser prodemokrasi ‘komunitas Punk’ underground. Ke berbagai stasiun radio. Ke balai-balai masjid …kami makan bersama. Nonton TV bersama. Saling pinjam buku, DVD.
“Saya menjumpai banyak kaum Muslim,” tulis saya. “Berbagai pertanyaan menyerbu saya.”
Berbagai pertanyaan tentang pandangan AS tentang Islam, pesantren, terorisme, Irak, juga tentang religiositas AS, demokrasinya, juga keadilannya. Saya adalah lulusan Universitas Ohio. Usia 23, saat itu. Bukan seorang diplomat. Bukan seorang profesor. Dan jelas bukan seorang ahli tentang sistem politik AS, hak-hak konstitusional, budaya AS, atau tentang terorisme. Tapi …saya sering didorong ke panggung, disodorkan mikrofon, diwawancara radio …dikelilingi lusinan Muslim, dan ditanya pendapat saya. Sebab saya seorang Amerika. Kebanyakan mereka tak pernah berjumpa dengan seorang pun warga Amerika. Kebanyakan mereka tak pernah mendengar pendapat dari satu pun orang Amerika, kecuali Presiden Bush.
Pastinya, kebanyakan diplomat AS setuju –AS harus memperbaiki citranya di antara komunitas Muslim di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, negeri berpenduduk Muslim terbanyak di dunia; negeri yang sedang merengkuh demokrasi …tapi, saya kok jadi bertanya-tanya. Di luar berbagai kunjungan resmi dan jarang ke beberapa pesantren, bagaimana para diplomat AS di sini mampu mengembangkan asosiasi positif dengan berbagai ragam masyarakat Muslim? Dinding tinggi dan pagar kawat berduri mengelilingi kedutaan AS di Jakarta. Para diplomat AS di konsulat di Surabaya, Jawa Timur, tinggal di hotel bintang lima Sheraton. Kebanyakan pejabat AS di sini bergantung pada penerjemah, dan mengandalkan izin bicara kepada siapa pun dalam posisi mereka sebagai perwakilan AS.
Saya mencoba adil (fair). Saya katakan pada mereka, kaum Muslim Indonesia, bahwa saya mencintai negeri saya. Bahwa saya biasanya mendukung pemerintah AS (walau saya tak memilih Presiden Bush). Bahwa saya mendukung militer AS (ayah saya adalah seorang pensiunan pejabat Korps Angkatan Laut AS yang ikut serta dalam Perang Teluk I). Bahwa saya sangat membanggakan negeri saya. Nyaris secara berlebihan. Dan justru karena saya mencintai negeri saya, saya musti mengkritik dan mempertanyakan kebijakan negeri saya. Itulah tanggung jawab saya. Saya katakan pada mereka …karena kebanyakan orang Amerika bangga (dan layak saja mereka merasa begitu), maka banyak orang Amerika tak mampu, atau tak mau, atau tak sadar bahwa AS juga punya sejarah kotor. Sebelum arusutama bangsa Amerika mengakui berbagai kesalahan AS, perubahan tak akan pernah ada. Saya berpikir bahwa kebanyakan Muslim Indonesia –kebanyakan masyarakat global Muslim– hanya ingin kejujuran bangsa Amerika. Ketulusan.”
Masyarakat Muslim Indonesia juga tak sempurna. Tak ada masyarakat yang sempurna. Tak ada kepercayaan yang sempurna. Tapi di Pondok Pesantren Al-Mizan, dan di berbagai pesantren lain, saya lihat para kyai menunjukkan dukungan pada keadilan, hak asasi manusia, keseteraan, dan demokras. Malah, hal-hal itu sebetulnya adalah konsep-konsep yang lekat dalam berbagai ajaran Al Qur’an. Kyai Maman Imanulhaq Faqieh, yang menghadiri konferensi dialog antaragama di Universitas Ohio pada September 2004, berkhutbah di sebuah pengajian baru-baru ini: “Jihad di Majalengka adalah meningkatkan pendidikan.” Kaum Muslim harus berjuang untuk mendidik kaum muda, mengenalkan warna abu-abu pada dunia santri, menolong orang lain lepas dari agama apa yang mereka anut, juga etnis apa mereka. Kaum muda santri harus menentang sistem global tiranik. Saya kira, ini ucapan seorang Muslim progresif. Dan kebanyakan Muslim memang begitu.
Tapi, saya curiga bahwa banyak diplomat AS –sesuai dengan sentimen di pemerintahan AS kini– hanya menyambangi kyai, lalu pesantren, lalu santri, dalam sebuah kunjungan sehari yang formal, seolah sedang memeriksa apakah ada yang “anti-Amerika” atau “pro-Amerika”, “antiterorisme” atau “prosekular”. (Muslim) “baik” atau “buruk”. Akibatnya, kebanyakan kaum Muslim Indonesia yang saya temui merasa harus meyakinkan saya bahwa Islam bukanlah kekerasan, dan bukan terorisme. Islam adalah kedamaian. Bahwa para teroris adalah dungu, gila. Upaya meyakin-yakinkan saya ini sering dalam kalimat yang seolah telah disiapkan dulu. Malah, kadang, terasa mendikte. Tapi saya kira, ini lebih merupakan cermin sebuah kecemasan.
Seorang mahasiswa STAISA berkata dalam bahasa Inggris, “Mister, I wish you were president of America.” Seorang santri mempertanyakan bantuan tsunami dari kaum non-Muslim “Barat”. Mahasiswa STAISA lain mengkritik liputan berita “Barat” yang menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan. “Jelas dalam Al Qur’an bahwa kaum Muslim menentang konflik,” katanya. Saya katakan, “Tidak, hal ini tak jelas bagi kami.
Kebanyakan orang Amerika (yang non-Muslim) sibuk di pekerjaan dan urusan keluarga mereka. Mereka sibuk. “Islam” hanyalah sebuah artikel berita singkat, sebuah laporan TV yang pendek, biasanya berita tentang peristiwa kekerasan. Orang Amerika kebanyakan tak kenal seorang pun Muslim. Mereka tak peduli. Mereka tak ingin kekerasan atau perang, tapi mereka tak peduli.” Saya berhenti sejenak. “Di luar PP Ulumuddin ini, ada masalah pengangguran, ada masalah kelaparan,” kata saya, bersemangat. “Kenapa Anda begitu terobsesi dengan nasib kaum Muslim di negeri lain, di Irak, Afghanistan, dan Bosnia?”
Mereka menatap saya.
Saya mencatat suasana saat itu. “Kerumunan hadirin mengobrol sebelum saya selesai bicara. Para mahasiswa bersemangat, merokok, tertawa, gaduh, meninggikan suara, semangat anti-Amerika dan anti-Bush memanas. Dan tiba-tiba,” begitu saya catat, “banyak yang menjabat tangan saya, menyalami, berterimakasih, angkat jempol, dan saya pun dituntun ke tempat makanan. Dan cewek berjilbab menanyakan nomor HP saya, cepat-cepat seusai seminar….” Saya difoto-foto, dan saya diundang untuk bicara lagi lain kali.
“Amerika bagus, bagus,” kata seorang mahasiswa STAISA, ceria.***

*Tim Pappa, 25, baru saja meraih gelar S2 dalam bidang Studi Asia Tenggara, di Ohio University, di Athens, Ohio.

Kamis, 13 Juni 2013

Maju Bacagub Jabar, Rieke ‘Bingung’ Pilih Teten atau KH Maman

Maju Bacagub Jabar, Rieke ‘Bingung’ Pilih Teten atau KH Maman - Patner Harus Seideologi dan Satu Tujuan - Gedung sate menjadi incaran politik-politik besar yang berebut kursi gubernur Jawa Barat. *istLENSAINDONESIA.COM: Siapa figur yang bakal menjadi pendamping Rieke Diah Pitaloka maju Pilgub Jabar dari PDIP, masih jadi teka-teki. Pasalnya, nama aktivis anti korupsi Teten Masduki dan Pimpinan Pondok Pesantren Al Mizan Kabupaten Majalengka, KH Maman Imanulhaq Faqieh sama-sama kuat.
Keduanya tidak hanya memiliki popularitas di mata masyarakat Jawa Barat. Tapi, masing-masing juga saling memiliki kekuatan dalam penilaian DPP PDI Perjuangan.
Rieke sendiri kepada LICOM, mengaku ia tak ingin gegabah menetapkan diri sebagai Calon Gubernur Jabar, karena semua tergantung DPP PDI Perjuangan. Tapi, kalau diminta memilih salah satu dari nama itu, Rieke tidak bisa memutuskan karena ia yang mengajukan dua nama itu ke DPP PDIP.
“Dari luar partai, saya ajukan dua nama, Teten Masduki dan KH Maman Imanulhaq Faqieh,” kata Rieke. Dan, keputusan tetap di DPP.
Walau demikian, Rieke menegaskan berharap berpatner dengan orang yang satu ideologi, dan punya tujuan yang sama untuk membangun Jawa barat yang lebih maju dan terbuka bagi masyarakat.
“Tapi, ideologi bukan permen karet, yang sebatas dikunyah dan dibuang begitu saja melainkan harus bisa diturunkan menjadi kebijakan sebagai pekerja politik,” kata Rieke memberi gambaran lebih konkret.

Cucu Kiai Faqieh Ingin Wujudkan Jabar Baru Bersama Rieke

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Maman Imanulhaq alias Kang Maman, cucu ulama karismatik asal Jawa Barat Kiai Faqieh, menyatakan kesiapannya mendampingi politisi PDI Perjuangan untuk bertarung dalam memperebutkan kursi Jawa Barat satu, tahun depan.
Putra KH Abdurrochim menyatakan bersedia bila dipinang menjadi calon wakil gubernur Jabar, mendampingi Rieke Diah Pitaloka.
"Teteh Rieke kemarin bertemu saya di Indramayu. Kami bersahabat sejak lama, dan sama-sama punya kepedulian terhadap nasib kaum dhuafa, buruh, petani, nelayan, dan guru," ujar Kang Maman kepada Tribun, Selasa (2/10/2012).
Dalam setiap acara, lanjutnya, mereka bertemu dalam event penting yang membela Pancasila. Menurutnya, bila Rieke mendapat rekomendasi dari partainya untuk maju, ia Kang Maman siap disandingkan.
"Untuk Jabar baru, tanah Pasundan, saya siap bersama Rieke. Sebagai orang yang tahu persis sosok Rieke yang cerdas dan perjuangannya dengan para buruh. Indikasi karakternya yang punya sense terhadap perjuangan dhuafa, insya Allah saya siap membantu perjuangan Rieke," tuturnya.
Maman ingin Jabar berubah, dan menurutnya Rieke adalah figur yang tepat.
"Beberapa tokoh di Cirebon, dan beberapa tokoh tatar Pasundan lainnya, sudah memberikan sinyal dukungan, 'menjodohkan' kami memimpin Jawa Barat lima tahun ke depan," ungkapnya.
Hingga kini, DPP PDI Perjuangan belum memutuskan siapa yang akan direkomendasikan untuk maju dalam Pilgub Jabar tahun depan. Beberapa nama lain sudah menyatakan kesiapannya, meski belum secara resmi.
Selain petahana Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dari PKS, nama Wakil Gubernur Dede Yusuf juga menyatakan kesiapannya untuk maju.
Nama lain yang diprediksi ikut dalam pertarungan adalah Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, termasuk artis sekaligus politisi Partai Gerindra, Rachel Maryam. (*)

Maman, Kiai-nya Anak Jalanan

Liputan6.com, Majalengka: Maman Imanulhaq Faqieh, pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan di Ciborelang, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, memiliki gaya ceramah yang unik. Bahasanya sederhana dan penuh humor. Kang maman juga dikenal lantaran upayanya merangkul anak jalanan untuk dijadikan santri. Caranya, dengan mengajak mereka bermain musik dan ilmu bela diri.
Apa yang dilakukan kiai muda kelahiran Sumedang tahun 1972 ini mungkin tampak sepele. Kendati demikian di sinilah justru kekuatan Maman untuk membawa anak jalanan mengenali kehidupan yang sesungguhnya. Berawal dari musik, Maman menjadikan mereka sosok yang memahami hidup dan agama.
Awalnya memang sulit. Namun perlahan tapi pasti, para pengguna narkotik dan obat-obatan berbahaya dan pecandu minuman keras tertarik mengikuti ajakan Maman. Tak hanya itu, mereka juga diajak mengikuti pendidikan formal di Pesantren beserta santri umum lainnya. Semuanya diberikan tanpa biaya sepeser pun alias gratis.
Para mantan anak jalanan ini juga diajari berkebun dan beternak. Mereka tak dipaksa mengikutinya. Dengan kesadaran sendiri, mereka menuruti perintah Maman. Cara ini membuat anak jalanan tertarik. Tidak ada paksaan. Tapi dengan sentuhan batin. Alhasil, mereka merasa dihargai sebagai manusia.
Berkat ketekunan Maman, para anak jalanan akhirnya mulai kembali menjadi sosok yang memiliki harapan. Setidaknya, hal ini terwujud lewat kiprah mereka dalam kelompok musik dan seni debus anak jalanan bernama Ki Buyut. Grup ini didirikan untuk santri mantan anak jalanan.
Maman mengaku menjadi kiai bukanlah sekadar mengajarkan ilmu atau berdakwah. Baginya, kiai adalah pribadi yang bisa memberi contoh konkret mengajak seseorang untuk mengenal Sang Khalik. Maman hanya berupaya agar manusia bisa menghargai manusia lain.
Menurut Maman, setiap manusia tetap memiliki harapan untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna. Bagi Maman, semua manusia laik untuk dimanusiakan.(REN/Tim Liputan 6 SCTV)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review